Kembali ke Blog

Cara Membuat Soal HOTS Pembelajaran Mendalam Tanpa Bikin Siswa Frustrasi

15 Oktober 2026 · 6 menit baca

Cara Membuat Soal HOTS Pembelajaran Mendalam Tanpa Bikin Siswa Frustrasi

Pernahkah Anda membagikan lembar soal penilaian harian di kelas, lalu disambut keluhan serentak: "Pak/Bu, soalnya susah dan membingungkan sekali, bacaannya panjang banget!" Ketika lembar jawaban dikoreksi, rata-rata nilai kelas anjlok bukan karena siswa tidak menguasai kompetensi dasar, melainkan karena mereka kelelahan mencerna narasi soal yang berbelit-belit.

Di ruang-ruang guru, istilah HOTS (Higher-Order Thinking Skills) sering kali menjadi momok tersendiri. Ada persepsi umum di kalangan pendidik bahwa agar sebuah instrumen evaluasi diakui sebagai soal bermutu tinggi, soal tersebut wajib menyajikan teks bacaan hingga setengah halaman dengan kosa kata yang sengaja dibuat rumit. Akibatnya, esensi asesmen bergeser: bukan lagi menguji nalar kritis siswa, melainkan menguji daya tahan membaca cepat.

Dalam paradigma Pembelajaran Mendalam yang kini ditegaskan melalui Permendikdasmen No. 13/2025, soal HOTS bukanlah instrumen untuk 'menjebak' atau membuat siswa frustrasi. Soal HOTS sejatinya adalah sarana untuk melatih daya transfer pengetahuan—bagaimana siswa menggunakan konsep dasar yang telah dipahami secara bermakna untuk menganalisis masalah, mengambil keputusan etis, dan merumuskan solusi di dunia nyata.

1. Membedakan Soal HOTS dari Soal yang Sekadar Rumit

Langkah awal dalam merancang asesmen yang berkeadilan adalah meluruskan batas antara tingkat kesulitan (difficulty) dan tingkat kognitif (cognitive level). Soal yang sulit belum tentu HOTS, dan soal HOTS tidak harus selalu sulit dijawab.

Sebagai contoh, menanyakan "Sebutkan tahun, tanggal, dan nama kapal yang digunakan ekspedisi Cornelis de Houtman saat mendarat di Banten!" adalah soal yang sangat sulit bagi sebagian besar siswa karena menuntut memori fotografis yang detail. Namun secara kognitif, soal tersebut berada pada level LOTS (Low-Order Thinking Skills / C1 Mengingat). Pertanyaan itu hanya menguji daya ingat fakta mati tanpa membutuhkan penalaran.

Sebaliknya, perhatikan pertanyaan ini: "Jika sebuah kota ingin mengurangi polusi udara akibat kendaraan bermotor dalam waktu 3 bulan ke depan, manakah kebijakan yang paling realistis antara menaikkan tarif pajak kendaraan atau menggratiskan tiket bus kota? Berikan alasan berdasarkan grafik emisi berikut!" Soal ini membutuhkan nalar C4 (Menganalisis) dan C5 (Mengevaluasi). Siswa tidak sekadar menghafal definisi, melainkan menimbang data dan mempertahankan argumen logis mereka.

2. Anatomi Utama: Menyajikan Stimulus yang Relevan dan Berfungsi

Ciri khas soal HOTS terletak pada hadirnya 'stimulus'—dapat berupa kasus nyata di lingkungan siswa, infografis ringkas, kutipan dialog, tabel data, atau potongan berita kontekstual.

Namun, jebakan yang paling sering terjadi adalah stimulus yang hanya berfungsi sebagai pemanis (dekorasi). Siswa membaca teks narasi yang panjang, padahal pertanyaan di bawahnya dapat langsung dijawab tanpa membaca stimulus tersebut sama sekali. Stimulus yang baik harus bersifat interdependen: siswa tidak akan bisa menjawab dengan tepat jika tidak mengolah data atau pesan yang terkandung di dalam stimulus.

Pilihlah stimulus yang dekat dengan keseharian siswa. Misalnya, daripada mengambil contoh kasus industri petrokimia yang abstrak bagi siswa SMP, gunakan studi kasus lonjakan harga minyak goreng lokal atau pengelolaan sampah di kantin sekolah. Konteks yang akrab akan memantik rasa ingin tahu dan membuat siswa merasa materi yang diujikan benar-benar relevan dengan hidup mereka.

3. Formulasi Kata Kerja Operasional (KKO) Analisis, Evaluasi, dan Kreasi

Untuk memastikan butir soal benar-benar menyasar ranah kognitif tingkat tinggi, rujuklah Taksonomi Bloom revisi pada level C4, C5, dan C6 secara cermat:

Level C4 (Menganalisis): Siswa diminta membedakan mana fakta dan mana asumsi, mengaitkan sebab-akibat yang tidak tampak di permukaan, atau membedah struktur argumen. Contoh instruksi: "Berdasarkan dua artikel berita berikut, temukan perbedaan sudut pandang kedua jurnalis dalam memandang masalah yang sama!"

Level C5 (Mengevaluasi): Siswa diminta menilai suatu tindakan, mempertahankan keputusan, atau menguji kelemahan suatu solusi berdasarkan kriteria yang jelas. Contoh instruksi: "Apakah keputusan kepala desa melarang penggunaan kantong plastik di pasar tradisional sudah tepat sasaran? Evaluasilah dampak ekonomi jangka pendeknya bagi pedagang kecil!"

Level C6 (Mencipta/Kreasi): Siswa diminta merancang hipotesis baru, menyusun rencana aksi alternatif, atau memadukan beberapa gagasan menjadi sebuah solusi baru. Contoh instruksi: "Rancanglah alur kampanye digital sederhana untuk mengajak teman sekelas memilah sampah organik dan anorganik dengan modal nol rupiah!"

4. Menyesuaikan Kompleksitas Soal dengan Fase Perkembangan Murid

Penerapan soal HOTS tidak boleh dipukul rata untuk semua jenjang. Guru perlu memperhatikan fase perkembangan siswa agar stimulus dan tuntutan kognitifnya tidak menimbulkan beban kognitif berlebih (cognitive overload).

Pada Fase A dan B (Kelas 1-4 SD), soal bernalar tinggi tidak membutuhkan teks panjang. Stimulus visual berupa komik dua panel atau ilustrasi situasi sehari-hari jauh lebih ramah anak. Pertanyaan bisa berfokus pada empati dan sebab-akibat sederhana: "Perhatikan gambar Toni yang terjatuh saat bermain sepeda. Jika kamu berada di posisi Budi, tindakan apa yang sebaiknya kamu lakukan terlebih dahulu dan mengapa?"

Memasuki Fase C hingga F (SMP dan SMA/SMK), stimulus dapat berkembang ke arah data kuantitatif sederhana, grafik komparasi, serta dilema sosial atau etika sains. Pastikan pilihan jawaban (distraktor) pada soal pilihan ganda dirancang homogen dan logis, sehingga menguji pemahaman konsep secara utuh tanpa ada opsi yang terkesan mengada-ada.

5. Susun Bank Soal HOTS dan Kisi-kisi Asesmen Lengkap Tanpa Lembur

Menyusun stimulus kontekstual, merumuskan opsi jawaban analitis, serta menyelaraskan indikator soal dengan tujuan pembelajaran terukur tentu menuntut energi yang tidak sedikit. Jika setiap pekan guru harus membuat puluhan butir soal lengkap dengan kisi-kisi dan rubriknya dari nol, waktu istirahat dan persiapan interaksi langsung dengan siswa di kelas akan tergerus habis.

Untuk meringankan beban administrasi tersebut, Anda dapat memanfaatkan Kawan Ajar. Kawan Ajar adalah sistem kerja cerdas yang dirancang khusus bagi guru Indonesia untuk mempermudah perancangan Perencanaan Pembelajaran Mendalam, LKPD interaktif, hingga paket soal evaluasi berkualitas secara otomatis.

Sistem Kawan Ajar secara konsisten mematuhi kaidah evaluasi dan regulasi Permendikdasmen No. 13/2025, termasuk kepatuhan opsi jawaban per jenjang (3 opsi untuk Fase A, 4 opsi untuk Fase B ke atas). Seluruh lembar soal, kisi-kisi, dan kunci jawaban dapat langsung diekspor ke dalam format .docx yang rapi, siap cetak, dan siap dimintakan pengesahan kepala sekolah. Manfaatkan juga fitur Batch Generate untuk menyusun instrumen evaluasi satu semester sekaligus. Saat ini Kawan Ajar dapat diakses secara gratis penuh dalam masa early access hingga 31 Oktober 2026 di kawan-ajar.io.

Siap coba menyusun dokumen Anda sendiri?

Daftar gratis